COTABATO – Nama “Cotabato” merupakan kata turunan
dari bahasa Melayu “Kota Batu”. Kota pantai itu berhadapan dengan Teluk
Ilana, yang menjadi bagian kecil dari Teluk Moro di sebelah baratnya.
Letaknya di muara dua sungai Rio Grande de Mindanao dan Sungai Pulangi.
Di kedai kopi, Zamzamin Ampatuan – satu dari anggota klan itu – yang menjabat Wali Kota Rajah Buayan, bersedia bertemu. Dia mengatakan, tidak semua orang di klan Ampatuan memiliki kegemaran dengan senjata atau memiliki pengawal bersenjata.
“Seperti politisi lain di Mindanao, mereka merasa aman ketika mereka memiliki pengawal. Hal itu juga disebabkan lantaran di banyak bagian dari Filipina (memiliki senjata dan pengawal bersenjata) itu adalah salah satu cara untuk melakukan sesuatu,” serunya nyaring (selengkapnya di: http://www.seapa.org/?p=10557).
Suatu senja di Gensan, Merly Perante tercenung sesaat di rumahnya yang sunyi. Dia masih ingat pembunuhan massal yang merenggut nyawa sang suami Ronnie sempat membuatnya tidak terima kenyataan. “Sukar menerimanya. Saya sedang hamil ketika suami saya terbunuh. Saya coba menjelaskan kepada anak saya saat dia bertanya di mana bapaknya,” gumam Merly, yang kini jadi janda beranak tiga.
Dia masih menyibukkan diri merawat taman kecil yang indah di depan rumahnya. Suasana sunyi menyelimuti keluarga Perante sejak lima tahun silam. Ronnie menjadi satu dari 32 jurnalis yang terbunuh dalam pembantaian di Maguindanao pada 23 November 2009. Penderitaan istri dan anak yang ditinggal mati itu diceritakan Nan Lwin dalam ‘My Son Will Also Be a Journalist’ di situs SEAPA (http://www.seapa.org/?p=10366).
Bukan hanya kematian Ronnie Perante beserta 31 jurnalis lain. Beberapa peristiwa pembunuhan di berbagai tempat di Filipina membuat wartawan menjadi sebuah pekerjaan yang rawan bahaya.
Alyaa Alhadjri menyambar jawaban dari Ali Macabalang, John Unson, Joseph dan JP Jubelag, Aquiles Zonio, Ryan Rosauro, Carolyn O. Arguillas, Rowena Paraan, dan Prof Luis Teodoro demi menguatkan alasannya. Posisi rawan wartawan dirangkum secara utuh dari keterangan semua jurnalis itu (dalam: http://www.seapa.org/?p=10358).
Sejauh ini, dalam 145 pembunuhan yang berhubungan dengan pekerjaan media yang terjadi di Filipina sejak tahun 1986, belum ada dalang yang dihukum (berdasarkan data dari lembaga kajian media yang berbasis di Manila, Centre for Media Freedom and Responsibility/CMFR).
Kasus Nestor Bedolido dibongkar Donny Suparman (simak: http://www.seapa.org/?p=10627). Jurnalis itu ditembak dengan enam kali tembusan peluru pada 19 Juni 2010 saat membeli rokok di Digos City. Empat bulan setelah pembunuhan, Voltaire Mirafuentes menyerahkan diri dan mengaku sebagai sang pembunuh.
Di balik semua itu, orang-orang yang disebutkan Mirafuentes berada di belakang pembunuhan itu para tokoh politik lokal yang selain kuat, juga berpengaruh, yakni, mantan Gubernur Davao del Sur Douglas Cagas maupun Gubernur yang saat ini berkuasa Matanao, serta Wali Kota Davao del Sur Vicente Fernandez.
Pembunuhan wartawan meningkatkan kesadaran atas keamanan. Eaint Khaine Oo menuangkan ide itu secara gamblang (di: http://www.seapa.org/?p=10640). Persoalan mengenai pentingnya memiliki pengetahuan tentang keselamatan diri bagi wartawan di manapun bekerja bisa dicermati dari kisah jurnalis radio Malu Manar yang menyamar karena dibuntuti pembunuh bayaran.
Balada enam jurnalis pengelana pindah ke Davao, kota terakhir yang mereka singgahi di Mindanao. Sekumpulan rekan jurnalis lokal di sana lagi berunjuk rasa menuntut upah layak dan jaminan kesehatan. Kota itu bersih dan bebas rokok. Ketahuan merokok di tempat umum bisa didenda sangat mahal. Davao pun mereka tinggalkan.
Ruang redaksi mini dengan tensi tinggi yang menekan pikiran dan perasaan akhirnya digelar di Manila. Tiga editor – Red Batario, Cecile Balgos, dan Chi Liquicia – secara sadar dan sabar membimbing mereka layaknya bapak-ibu-anak yang saling berteman dengan akrab. Selama itu pula mereka berkutat menekuri papan ketik untuk menghasilkan buah karya tulis yang akan dinikmati pembaca setia di lintas negara Asia Tenggara.
Apakah sebagai sesama bangsa di Asia Tenggara kita pernah merasa takut hidup di negara yang pemerintahnya suka menganggap warganya sendiri seperti lawan yang harus dimusuhi karena
memperjuangkan kemerdekaan nurani? Kata Pramoedya Ananta Toer, “Sistem kekuasaan yang dibangun dengan pembunuhan massal selamanya menjadi sistem yang lebih sibuk membenahi nurani sendiri.”
Jurnalis yang baik itu seperti pengelana klasik yang selamanya mencari kesejatian. Mereka bersandar pada nilai-nilai kebenaran tidak sekadar mengandalkan ilmu melulu. Bersandar pada kejujuran. Namun, bukan kejujuran untuk diri sendiri saja, melainkan disebarkan kepada khalayak, dibagikan untuk orang lain. Bukan dengan maksud terselubung agar dikultuskan sebagai manusia setengah dewa atau diteladani seperti pahlawan. Bukan.
Tapi, hanya pengelana saja. Ke mana pun kebenaran terarah. (Tamat)
(ful)
Di kedai kopi, Zamzamin Ampatuan – satu dari anggota klan itu – yang menjabat Wali Kota Rajah Buayan, bersedia bertemu. Dia mengatakan, tidak semua orang di klan Ampatuan memiliki kegemaran dengan senjata atau memiliki pengawal bersenjata.
“Seperti politisi lain di Mindanao, mereka merasa aman ketika mereka memiliki pengawal. Hal itu juga disebabkan lantaran di banyak bagian dari Filipina (memiliki senjata dan pengawal bersenjata) itu adalah salah satu cara untuk melakukan sesuatu,” serunya nyaring (selengkapnya di: http://www.seapa.org/?p=10557).
Suatu senja di Gensan, Merly Perante tercenung sesaat di rumahnya yang sunyi. Dia masih ingat pembunuhan massal yang merenggut nyawa sang suami Ronnie sempat membuatnya tidak terima kenyataan. “Sukar menerimanya. Saya sedang hamil ketika suami saya terbunuh. Saya coba menjelaskan kepada anak saya saat dia bertanya di mana bapaknya,” gumam Merly, yang kini jadi janda beranak tiga.
Dia masih menyibukkan diri merawat taman kecil yang indah di depan rumahnya. Suasana sunyi menyelimuti keluarga Perante sejak lima tahun silam. Ronnie menjadi satu dari 32 jurnalis yang terbunuh dalam pembantaian di Maguindanao pada 23 November 2009. Penderitaan istri dan anak yang ditinggal mati itu diceritakan Nan Lwin dalam ‘My Son Will Also Be a Journalist’ di situs SEAPA (http://www.seapa.org/?p=10366).
Bukan hanya kematian Ronnie Perante beserta 31 jurnalis lain. Beberapa peristiwa pembunuhan di berbagai tempat di Filipina membuat wartawan menjadi sebuah pekerjaan yang rawan bahaya.
Alyaa Alhadjri menyambar jawaban dari Ali Macabalang, John Unson, Joseph dan JP Jubelag, Aquiles Zonio, Ryan Rosauro, Carolyn O. Arguillas, Rowena Paraan, dan Prof Luis Teodoro demi menguatkan alasannya. Posisi rawan wartawan dirangkum secara utuh dari keterangan semua jurnalis itu (dalam: http://www.seapa.org/?p=10358).
Sejauh ini, dalam 145 pembunuhan yang berhubungan dengan pekerjaan media yang terjadi di Filipina sejak tahun 1986, belum ada dalang yang dihukum (berdasarkan data dari lembaga kajian media yang berbasis di Manila, Centre for Media Freedom and Responsibility/CMFR).
Kasus Nestor Bedolido dibongkar Donny Suparman (simak: http://www.seapa.org/?p=10627). Jurnalis itu ditembak dengan enam kali tembusan peluru pada 19 Juni 2010 saat membeli rokok di Digos City. Empat bulan setelah pembunuhan, Voltaire Mirafuentes menyerahkan diri dan mengaku sebagai sang pembunuh.
Di balik semua itu, orang-orang yang disebutkan Mirafuentes berada di belakang pembunuhan itu para tokoh politik lokal yang selain kuat, juga berpengaruh, yakni, mantan Gubernur Davao del Sur Douglas Cagas maupun Gubernur yang saat ini berkuasa Matanao, serta Wali Kota Davao del Sur Vicente Fernandez.
Pembunuhan wartawan meningkatkan kesadaran atas keamanan. Eaint Khaine Oo menuangkan ide itu secara gamblang (di: http://www.seapa.org/?p=10640). Persoalan mengenai pentingnya memiliki pengetahuan tentang keselamatan diri bagi wartawan di manapun bekerja bisa dicermati dari kisah jurnalis radio Malu Manar yang menyamar karena dibuntuti pembunuh bayaran.
Balada enam jurnalis pengelana pindah ke Davao, kota terakhir yang mereka singgahi di Mindanao. Sekumpulan rekan jurnalis lokal di sana lagi berunjuk rasa menuntut upah layak dan jaminan kesehatan. Kota itu bersih dan bebas rokok. Ketahuan merokok di tempat umum bisa didenda sangat mahal. Davao pun mereka tinggalkan.
Ruang redaksi mini dengan tensi tinggi yang menekan pikiran dan perasaan akhirnya digelar di Manila. Tiga editor – Red Batario, Cecile Balgos, dan Chi Liquicia – secara sadar dan sabar membimbing mereka layaknya bapak-ibu-anak yang saling berteman dengan akrab. Selama itu pula mereka berkutat menekuri papan ketik untuk menghasilkan buah karya tulis yang akan dinikmati pembaca setia di lintas negara Asia Tenggara.
Apakah sebagai sesama bangsa di Asia Tenggara kita pernah merasa takut hidup di negara yang pemerintahnya suka menganggap warganya sendiri seperti lawan yang harus dimusuhi karena
memperjuangkan kemerdekaan nurani? Kata Pramoedya Ananta Toer, “Sistem kekuasaan yang dibangun dengan pembunuhan massal selamanya menjadi sistem yang lebih sibuk membenahi nurani sendiri.”
Jurnalis yang baik itu seperti pengelana klasik yang selamanya mencari kesejatian. Mereka bersandar pada nilai-nilai kebenaran tidak sekadar mengandalkan ilmu melulu. Bersandar pada kejujuran. Namun, bukan kejujuran untuk diri sendiri saja, melainkan disebarkan kepada khalayak, dibagikan untuk orang lain. Bukan dengan maksud terselubung agar dikultuskan sebagai manusia setengah dewa atau diteladani seperti pahlawan. Bukan.
Tapi, hanya pengelana saja. Ke mana pun kebenaran terarah. (Tamat)



0 komentar:
Posting Komentar