JAKARTA - Kongres XV GP Ansor pada 25-28
November 2015 di Yogyakarta menjadi titik penting untuk mengembalikan
spirit Ansor sebagai barisan pemuda Nahdliyin.
“GP Ansor merupakan tonggak kaderisasi NU yang bersambung dengan lembaga dan Banom di organisasi para kiai. Sudah jelas, kaderisasi di organisasi Ansor untuk menerjemahkan ide-ide pendirian NU serta mengawal kepentingan pesantren sebagai basis kader NU,” ujar Dewan Penasihat Pengurus Wilayah (PW) GP Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta, Habib Hilal, Minggu (22/11/2015).
Demi capaian tadi, kongres yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Pandanaran Yogyakarta ini memunculkan beberapa kandidat, di antaranya KH Abdussalam Shohib (Pengasuh Ponpes Manbaul Ma’arif, Denanyar Jombang), Yaqut Cholil Qoumas (FKB DPR RI), Munadi Herlambang (PP GP Ansor), Hery Azumi (mantan Ketua Umum PB PMII), dan kandidat lainnya.
Rangkaian agenda pra kongres sudah berlangsung di beberapa lokasi dengan mengusung ide-ide untuk pembenahan GP Ansor. Salah satunya adalah usulan formatur. Namun, banyak cabang dan wilayah yang menolak karena dinilai tidak sesuai dengan semangat organisasi kader.
Hilal menilai, pembentukan formatur bukan sesuatu yang salah, tetapi tidak cocok untuk organisasi kader semacam Ansor. “Saya berharap, agar pembentukan formatur sebagai tim musyawarah ditunda dulu, untuk menghormati hak suara para kader,” tegas Hilal.
Ia berharap, kader-kader unggulan dari pesantren dapat muncul sebagai pemimpin Ansor. “Ibaratnya, NU kan didirikan dari rahim pesantren, oleh para kiai yang alim sekaligus muharrik. Jadi, kita perlu memberi ruang bagi para kader pesantren, yang memiliki kapasitas keilmuan sekaligus sebagai penggerak. Kalau hanya penggerak, itu kurang tepat untuk kondisi sekarang,” ungkap Hilal.
Dia juga berharap Kongres GP Ansor kali ini dapat berlangsung damai dan tertib. “Sebagai panitia dan tuan rumah, kami sangat berharap Kongres GP Ansor kali ini berlangsung khidmah, apalagi berlokasi di Pesantren Pandanaran yang menjadi salah pilar pesantren di Yogyakarta. Kita juga harus ingat, Yogyakarta sebagai City of Tolerance, memiliki etika dan sopan santun yang perlu menjadi acuan peserta kongres. Intinya, kami mengucapkan selamat datang bagi peserta kongres di kota ramah budaya ini,” ungkap Hilal.
(ful)
“GP Ansor merupakan tonggak kaderisasi NU yang bersambung dengan lembaga dan Banom di organisasi para kiai. Sudah jelas, kaderisasi di organisasi Ansor untuk menerjemahkan ide-ide pendirian NU serta mengawal kepentingan pesantren sebagai basis kader NU,” ujar Dewan Penasihat Pengurus Wilayah (PW) GP Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta, Habib Hilal, Minggu (22/11/2015).
Demi capaian tadi, kongres yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Pandanaran Yogyakarta ini memunculkan beberapa kandidat, di antaranya KH Abdussalam Shohib (Pengasuh Ponpes Manbaul Ma’arif, Denanyar Jombang), Yaqut Cholil Qoumas (FKB DPR RI), Munadi Herlambang (PP GP Ansor), Hery Azumi (mantan Ketua Umum PB PMII), dan kandidat lainnya.
Rangkaian agenda pra kongres sudah berlangsung di beberapa lokasi dengan mengusung ide-ide untuk pembenahan GP Ansor. Salah satunya adalah usulan formatur. Namun, banyak cabang dan wilayah yang menolak karena dinilai tidak sesuai dengan semangat organisasi kader.
Hilal menilai, pembentukan formatur bukan sesuatu yang salah, tetapi tidak cocok untuk organisasi kader semacam Ansor. “Saya berharap, agar pembentukan formatur sebagai tim musyawarah ditunda dulu, untuk menghormati hak suara para kader,” tegas Hilal.
Ia berharap, kader-kader unggulan dari pesantren dapat muncul sebagai pemimpin Ansor. “Ibaratnya, NU kan didirikan dari rahim pesantren, oleh para kiai yang alim sekaligus muharrik. Jadi, kita perlu memberi ruang bagi para kader pesantren, yang memiliki kapasitas keilmuan sekaligus sebagai penggerak. Kalau hanya penggerak, itu kurang tepat untuk kondisi sekarang,” ungkap Hilal.
Dia juga berharap Kongres GP Ansor kali ini dapat berlangsung damai dan tertib. “Sebagai panitia dan tuan rumah, kami sangat berharap Kongres GP Ansor kali ini berlangsung khidmah, apalagi berlokasi di Pesantren Pandanaran yang menjadi salah pilar pesantren di Yogyakarta. Kita juga harus ingat, Yogyakarta sebagai City of Tolerance, memiliki etika dan sopan santun yang perlu menjadi acuan peserta kongres. Intinya, kami mengucapkan selamat datang bagi peserta kongres di kota ramah budaya ini,” ungkap Hilal.



0 komentar:
Posting Komentar