Home » » Balada Jurnalis Pengelana di Mindanao (2)

Balada Jurnalis Pengelana di Mindanao (2)

GENERAL SANTOS – Di ambang senja, enam jurnalis Asia Tenggara itu menjejak Pulau Mindanao. Kota General Santos (Gensan) termasuk daerah Soccsksargen dalam provinsi South Cotabato mencetak jejak-jejak kaki mereka pertama kali. Secara administratif, Gensan memiliki pemerintahan independen.

Aquiles Zonio – alumni SEAPA Fellowship 2011 – bersama Jinx sopirnya, menjemput di bandara. Mereka berdua mengantar enam tamunya ke penginapan, Stonewood Hotel. Di tengah jalan antara bandara-penginapan, beberapa tentara bersenjata tampak sibuk memeriksa para pengendara yang melintas.

Nama “Mindanao” – lengkap dengan kisah berbagai konfliknya – membuat naluri enam jurnalis asing itu waspada. Kota Gensan mungkin mirip Texas kecil. Beberapa lelaki menyandang senapan otomatis M-16 berdiri di emperan sebuah toko. Malam itu, mereka tak bisa tidur nyenyak.

Bagaimana tidak.
Mereka terjun ke Mindanao buat merancang liputan investigatif tentang pembantaian Maguindanao. Korban terbunuh 58 warga sipil, termasuk 32 jurnalis, pada peristiwa kekerasan yang berkaitan dengan pemilihan kepala daerah itu, lima tahun silam. Diduga pelakunya dari keluarga Ampatuan, sebuah klan penguasa, yang mengendalikan dinasti politik turun-temurun sejak dulu kala.

Kasus itu sedang bergulir di pengadilan.
Kyaw Lynn jurnalis Myanmar menemukan fakta bahwa sekira setengah lusin saksi, serta keluarga mereka, telah dibunuh selama lima tahun terakhir di berbagai tempat yang berbeda di Maguindanao. Itu jelas sebuah peringatan dari dalang pembunuhan brutal bahwa para pelaku tidak segan-segan untuk melenyapkan siapa saja yang akan melibatkan mereka. Ada 194 terdakwa, 70 di antaranya mengajukan jaminan (baca: http://www.seapa.org/?p=10350). Belum seorang pun diputuskan bersalah.

Markas polisi menjadi tujuan pertama, Police Regional Office 12 di Barangay Tambler. Lokasinya di kawasan perbukitan menghadap Teluk Sarangani. Di bagian belakang kantor polisi itu – dalam kandang berpagar kawat – teronggok empat bangkai mobil yang rongsok. Hanya satu unit bus yang masih utuh.

Mobil itu sebelumnya dikendarai para korban pembantaian Maguindanao. Kendaraan mereka dihancurkan ekskavator setelah 58 penumpangnya ditembak mati. Ekskavator penghancur itu juga terkandang di sana. Selain itu, enam kendaraan tempur – satu di antaranya jenis pick-up lengkap dengan moncong sepucuk mitraliur – yang dikendarai para pelaku pembunuhan dijadikan barang bukti.

Sore nanti, keluarga para korban pembantaian Maguindanao berziarah di komplek pemakaman Forest Lake Memorial di kota asal petinju juara dunia Manny ‘Pacman’ Pacquiao ini. Para jurnalis itu ke sana juga, bahkan sempat mengajak keluarga korban berbincang.

Setelah malam tiba, mereka kembali ke hotel. Sebelum berpisah, Aquiles berkata hendak menjemput mereka lagi pukul 20.00 untuk bertemu sumber penting. Sumber yang mereka temui, dua kakak-beradik Joseph dan John Paul “JP” Jubelag, di kantor sekaligus rumahnya. Keduanya sedang mencetak Mindanao Bulletin, terbitan lokal peninggalan orang tua mereka.

Sejak itu mereka mulai berkelana memburu petunjuk di kandang barang bukti, komplek kuburan, dan kantor penerbitan. Mencari berbagai sumber dari kota Gensan, Cotabato, Shariff Aguak, Kidapawan, hingga ke Davao. Pengelanaan itu kemudian berakhir di Metro Manila. (Bersambung)
(ful)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Sekretariat : Jl. Raya Suningrat No. 9 Ketegan Sidoarjo, Jawa Timur - Indonesia
Copyright © 2014. dpdkwrijatim. - All Rights Reserved

SUPPORT BY : PORTAL ONLINE